PEMBANGUNAN
PERTANIAN DAN PEDESAAN
Pembangunan
pertanian dan pedesaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Pertanian merupakan komponen utama yang menopang kehidupan pedesaan di
Indonesia. Namun demikian peranan sektor pertanian secara keseluruhan tidak
berkembang sehingga belum berhasil meningkatkan posisi petani pada tingkat
sejahtera seperti yang diharapkan. Tujuan pembangunan adalah kesejahteraan
(welfare) dan, dalam konteks pedesaan adalah "rural welfare". Dalam
hal ini Mosher menekankan pentingnya "satisfaction" (kepuasan).
Karena itu, "sejahtera" itu bukan sekedar kesejahteraan secara fisik,
tapi juga yang lain-lain.
Petani dan
keluarga petani serta generasi penerus petani perlu diletakkan sebagai unsur sentral
yang memperoleh manfaat terbesar dari pembangunan pertanian. Kualitas petani
dan keluarga perlu memperoleh prioritas agar mampu melakukan penyesuaian
terhadap perubahan kondisi lingkungan yang melingkupinya dan secara tidak
langsung mempengaruhi pembangunan pertanian. Tanpa perbaikan kualitas petani
dan keluarganya, berbagai peluang yang muncul dari proses pembangunan tidak
akan mampu diraih
Syarat-Syarat
Pembangunan Pertanian Suatu pembangunan pertanian memerlukan beberapa
syarat dan prakondisi yang berbeda-beda untuk setiap negara ataupun
daerah-daerah yang berbeda-beda. AT. Mosher (1983) mengajukan factor utama dan
faktor pelancar di dalam pembangunan pertanian. Terdapat lima factor utama yang tidak boleh tidak harus ada untuk adanya
pembangunan pertanian. Kalau satu saja factor-faktor tersebut tidak ada, maka
terhentilah pembangunan pertanian. Ada 5 faktor utama yaitu :
a. Adanya pasar
untuk hasil usahatani
b. Teknologi
yang senantiasa berkembang
c. Tersedianya
sarana produksi dan peralatan secara local
d. Adanya perangsang
produksi bagi petani
e. Pengangkutan
/transportasi
Untuk lebih
jelasnya, factor-faktior utama yang
diperlukan dalam pembangunan pertanian tersebut akan dijabarkan sebagai berikut
:
a.
Adanya
Pasar untuk Hasil Usahatani
Ada 3 hal yang diperlukan dalam pasar
yaitu :
1.
Adanya
konsumen yang mau membeli hasil, atau adanya suatu
permintaan terhadap hasil tersebut.
2.
Adanya seseorang
atau lembaga yang menyalurkan/membawa hasil dari tempat petani
(usahatani) ke tempat konsumen.
Dengan perkataan lain adanya
suatu system pemasaran atau sistem tataniaga.
3.
Kepercayaan petani
terhadap kelancaran dan keberlanjutan sistem pemasaran.
Lembaga
pemasaran mempunyai banyak fungsi tataniaga seperti, pembelian, angkutan,
pengolahan, sortasi, grading, penggudangan, paking dan penjualan. Apabila
fungsi-fungsi tataniaga berjalan efisien, maka biaya tataniaga menjadi rendah,
sehingga harga jual dapat cukup rendah. Peranan pemerintah dalam pengembangan
lembaga-lembaga pemasaran adalah penting, seperti pembuatan peraturan,
pemberian fasilitas-fasilitas, pengadaan informasi dan pelatihan tenaga-tenaga
pemasaran. Petani mempercayai lembaga pemasaran apabila terdapat hal-hal
berikut :
a)
Biaya fungsi pemasaran
cukup rendah
b)
Balas jasa (profit)
lembaga pemasaran dianggap cukup wajar, seimbang dan adil dengan harga yang
diterima petani.
c)
Derajat fluktuasi harga
cukup wajar dan dapat diramalkan.
d) Ukuran-ukuran
timbangan yang jujur
e)
Sistem pembayaran yang
baik
f)
Jaminan kepastian
pembelian oleh lembaga-lembaga pemasaran.
b. Teknologi yang Senantiasa Berkembang
b. Teknologi yang Senantiasa Berkembang
Teknologi adalah
metode atau cara-cara budidaya pertanian dan input-input yang digunakan seperti
: bibit/benih, pupuk, pestisida, pakan ternak, alat-alat dan mesin
pertanian. Termasuk juga dalam teknologi pertanian metode-metode
kombinasi usaha, seperti kombinasi tanaman dan ternak atau kombinasi
tanaman-ternak-ikan, agar pemanfaatan lahan dan tenaga kerja sebaik mungkin
(optimal). Setelah suatu teknologi digunakan akan ditemukan kemudian
faktor-faktor pembatas, untuk mengatasi faktor-faktor pembatas ini dibutuhkan
kemudian teknologi baru. Dengan demikian teknologi harus terus menerus
dikembangkan untuk mengatasi faktor pembatas yang muncul.
c.
Tersedianya
Sarana Produksi dan Peralatan Secara Lokal
Meskipun
teknologi yang sesuai sudah ada dan hasil teknologi berupa input produksi
atau bahan-bahan produksi telah diproduksi/dihasilkan tetapi bila petani belum
dapat membelinya di lokasi usahataninya, maka petani belum menggunakan
input-input atau bahan baru tersebut. Itulah sebabnya bahwa input-input
yang diimport dan input yang diproduksi di dalam negara tetapi belum lancar
distribusinya atau pemasarannya, maka petani belum menggunakan input-input yang
kurang bagus, hanya karena tersedia secara lokal pada waktu dibutuhkan, seperti
: bibit/benih yang diproduksi secara lokal. Input-input bahan-bahan produksi
dibeli petani apabila memenuhi syarat-syarat:
a) Secara
teknis dapat digunakan dengan efektif.
b) Mutunya
dapat dipercaya.
c) Harganya
terjangkau petani.
d) Harus
tersedia secara lokal pada waktu dibutuhkan.
e) Paking
atau ukuran yang dijual sesuai dengan kebutuhan dan keinginan petani.
d.
Adanya
Perangsang Produksi bagi Petani
Meskipun petani
bisa menaikkan produksinya, tetapi kemauan/kesediaan petani untuk menaikkan
produksi tergantung pada manfaat yang akan diterimanya dari kenaikan produksi
itu. Tujuan petani dalam memproduksi hasil pertanian adalah memenuhi
kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kemudian kebutuhan-kebutuhan lain seperti
: pendidikan, kesehatan, angkutan dan kegiatan sosial. Peningkatan
pendapatan bersih atau laba usahatani merupakan
perangsang bagi peningkatan produksi. Hal ini tercapai apabila :
a) Adanya
hubungan harga yang menguntungkan
b) Ada
sistem pembagian hasil atau system sewa yang wajar
c) Ada
tersedia barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan petani.
d) Harga
barang-barang dan jasa-jasa yang ingin dibeli petani juga dianggap
wajar/seimbang.
e.
Pengangkutan
/Transportasi
Sebagai akibat
dari sifat pertanian yang harus tersebar luas diseluruh muka bumi, maka
diperlukan pengangkutan yang sangat banyak untuk mengangkut input-input
pertanian dari pasar ke usahatani dan mengangkut hasil-hasil pertanian dari
usahatani ke pasar lokal dan seterusnya dari pasar lokal ke tempat konsumen,
baik di dalam negeri atau di luar negeri.
Biaya
pengangkutan sangat penting bagi petani dan menentukan biaya produksi dan nilai
penerimaannya. Besarnya biaya angkutan ditentukan berbagai faktor yaitu :
a)
Jenis komoditi yang
diangkut dan perlakuan yang diperlukan
b)
Jenis alat angkutan,
berapa ton satu kali angkut
c)
Jarak tempuh dari
angkutan
d)
Berapa kali barang di
bongkar dan dimuat
e)
Keadaan prasarana jalan
Disamping faktor utama tadi ada 5
(lima) factor pelancar yaitu :
1. Pendidikan
pembangunan pertanian,
2. Kredit
produksi.
3. Kegiatan
bersama (gotong royong) para petani.
4. Perbaikan
dan perluasan lahan pertanian.
5. Perencanaan
nasional untuk pembangunan pertanian.
Untuk lebih
jelasnya, faktor-faktior pelancar yang diperlukan dalam pembangunan pertanian
tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
1.
Pendidikan Pembangunan Pertanian
Pendidikan pembangunan pertanian yaitu
pendidikan yang cocok untuk masyarakat yang ingin maju. Peningkatan pengetahuan dan
ketrampilan petani secara terus menerus adalah syarat mutlak pembangunan
pertanian.
Mengenai
program pendidikan pembangunan untuk petani, A.T. Mosher menyatakan harus memenuhi
8 syarat :
a) Harus diberikan di tempat petani
sendiri, di usahatani mereka dan di desa mereka.
b) Harus bersifat khas yang sesuai
dengan perhatian dan kebutuhan petani sekarang, antara lain bagaimana menaikkan
produksi dan produktivitas, menaikkan selisih penerimaan dan biaya produksi.
c) Harus memperhatikan bahwa petani
adalah orang dewasa, harus menggunakan metode-metode khusus.
d) Harus disesuaikan dengan
waktu-waktu petani tidak terlalu sibuk sehingga tidak mengganggu pekerjaan
mereka.
e) Hal-hal yang diajarkan adalah
terutama cara-cara dan metode-metode baru dan metode yang telah
diperbaiki/diubah.
f) Harus disertai dan pemberian
kesempatan kepada petani untuk segera mencoba metoda-metoda baru yang
diajarkan.
g) Cara-cara baru atau yang diperbaiki
harus sehat secara teknis.
h) Para petani perlu didorong untuk
melakukan percobaan.
Pendidikan
pembangunan berdasarkan prinsip-prinsip di atas disebut “Pendidikan
Penyuluhan”. Metode mengajar meliputi diskusi selama kunjungan ke
usahatani dan demonstrasi-demonstrasi lapangan dan penggunaan alat, pertemuan
kelompok, kunjungan ke usahatani lain.
2.
Kredit Produksi
Untuk memanfaatkan semua peluang-peluang yang terbuka dalam
usahatani/ usaha pertanian maka diperlukan lebih banyak modal. Modal
dapat digunakan untuk modal kerja atau untuk investasi dalam bibit ternak dan
bibit tanaman dan pemeliharaan tanaman keras (TBM). Maka untuk memenuhi
kekurangan modal petani, perlu diberikan kredit produksi kepada petani.
Sumber-sumber
kredit produksi yang dapat diperoleh petani ada bermacam-macam :
1. Kredit dalam bentuk bahan-bahan produksi
dan input-input produksi.
2. Kredit terpimpin (supervised credit)
3. Kredit perbankan tanpa supervisi.
4. Kredit dari Koperasi Kredit (credit
union).
5. Kredit Ventura
6. Kredit Perseorangan swasta
7. Kredit dari Perusahaan Inti
Pemberi kredit dalam pemberian kredit selalu
mempertimbangkan juga berbagai masalah dan resiko dalam pemberian kredit. Sedangkan
untuk mengurangi kegagalan penggunaan kredit juga sering dilakukan kerjasama
dengan pihak ketiga yang dapat bertindak sebagai supervisor, konsultan atau
mitra dalam manajemen dan pemasaran hasil.
3.
Kegiatan Bersama
Para Petani (Group Action)
Kegiatan usahatani sebagian dilaksanakan oleh masing-masing
petani secara individu, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam
pelaksanaannya. Dipihak lain kegiatan-kegiatan pemerintah sangat
mempengaruhi hasil dari usahatani. Antara kedua kegiatan ini ada
kebutuhan petani, untuk melaksanakan kegiatan bersama antara sesama
petani. Kebutuhan ini didasarkan atas sifat-sifat pertanian, seperti
ketergantungan pada iklim, pentingnya keamanan, perlunya mengatasi bencana alam
dan untuk menghadapi pasar. Kebutuhan-kebutuhan kerjasama dapat dilaksanakan
dalam bentuk gotong royong atau organisasi petani seperti koperasi dan
Persatuan Petani Sejenis. Gotong royong banyak di dasarkan atas budaya
tradisional dimana kewajiban dan cara-cara pelaksanaannya tidak begitu formil.
Karena pentingnya kegiatan bersama petani, maka pemerintah
mendorong dan membina kegiatan dan organisasi kegiatan bersama petani.
4. Perbaikan
dan Perluasan Tanah/Lahan Pertanian
Lahan-lahan pertanian yang telah diusahakan perlu
ditingkatkan produktivitasnya untuk memperoleh pertumbuhan pertanian dan
meningkatkan pendapatan petani. Oleh sebab itu berbagai upaya perlu
dilakukan untuk memperbaiki mutu lahan-lahan pertanian. Beberapa upaya
yang dapat dilakukan adalah :
a) Membangun irigasi seperti di lahan
sawah dan membangun system irigasi untuk tanaman-tanaman hortikultura sayuran
dan bunga-bungaan
b) Membangun
saluran drainase
c) Membangun teras-teras
di daerah berbukit-bukit
d) Membangun benteng-benteng
untuk mencegah tanah longsor.
e) Membantu benteng
benteng pencegahan/penahan banjir dan sungai
yang meluap.
Dalam
perluasan lahan pertanian perlu sekali dipertimbangkan biaya investasi dan
kelayakannya, karena biaya investasinya umumnya besar. Dalam hal ini
lokasi, waktu melaksanakan proyek dan apa komoditi yang akan diusahakan menjadi
faktor-faktor penentu kelayakan. Akibat pengembangan teknologi seperti
bioteknologi, hydroponik dan aeroponik, banyak lahan-lahan atau ruang yang
tadinya tidak layak menjadi layak digunakan untuk lahan pertanian.
5. Perencanaan
Nasional Untuk Pembangunan Pertanian
Tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban pemerintah dalam
pembangunan pertanian harus direncanakan dengan baik. Untuk itu harus
dilakukan perencanaan nasional untuk mendapat masukan dan menjadi acuan dalam
perencanaan daerah (perencanaan tingkat Propinsi dan Kabupaten).
Dalam
perencanaan diputuskan apa-apa yang harus dilakukan pemerintah untuk membangun
dan mempercepat pembangunan pertanian. Untuk melakukan perencanaan
nasional, maka perlukan badan yang kompeten melakukan perencanaan yaitu Badan
Perencaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Badan perencaan memperoleh masukan
dari departemen-departemen (kementerian) dan dari badan perencanaan daerah
propinsi dan kabupaten.
FAKTOR
UTAMA DAN FAKTOR PELANCAR DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN
(Tugas Mata Kuliah Penyuluhan Dan Pengembangan
Komunikasi Masyarakat)

Oleh:
NOVIATI
ANGRAINI
E1D312031
PROGRAM STUDI
AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014