SPW

SPW
Agribisnis 2012 Faperta Unlam

Minggu, 22 Maret 2015

FAKTOR UTAMA DAN FAKTOR PELANCAR DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN



PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN PEDESAAN
Pembangunan pertanian dan pedesaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pertanian merupakan komponen utama yang menopang kehidupan pedesaan di Indonesia. Namun demikian peranan sektor pertanian secara keseluruhan tidak berkembang sehingga belum berhasil meningkatkan posisi petani pada tingkat sejahtera seperti yang diharapkan. Tujuan pembangunan adalah kesejahteraan (welfare) dan, dalam konteks pedesaan adalah "rural welfare". Dalam hal ini Mosher menekankan pentingnya "satisfaction" (kepuasan). Karena itu, "sejahtera" itu bukan sekedar kesejahteraan secara fisik, tapi juga yang lain-lain.
Petani dan keluarga petani serta generasi penerus petani perlu diletakkan sebagai unsur sentral yang memperoleh manfaat terbesar dari pembangunan pertanian. Kualitas petani dan keluarga perlu memperoleh prioritas agar mampu melakukan penyesuaian terhadap perubahan kondisi lingkungan yang melingkupinya dan secara tidak langsung mempengaruhi pembangunan pertanian. Tanpa perbaikan kualitas petani dan keluarganya, berbagai peluang yang muncul dari proses pembangunan tidak akan mampu diraih
Syarat-Syarat  Pembangunan  Pertanian Suatu pembangunan pertanian memerlukan beberapa syarat dan prakondisi yang berbeda-beda untuk setiap negara ataupun daerah-daerah yang berbeda-beda. AT. Mosher (1983) mengajukan factor utama dan faktor pelancar di dalam pembangunan pertanian. Terdapat lima factor utama  yang tidak boleh tidak harus ada untuk adanya pembangunan pertanian. Kalau satu saja factor-faktor tersebut tidak ada, maka terhentilah pembangunan pertanian. Ada 5 faktor utama yaitu :
a. Adanya pasar untuk hasil usahatani
b. Teknologi yang senantiasa berkembang
c. Tersedianya sarana produksi dan peralatan secara local
d. Adanya perangsang produksi bagi petani
e. Pengangkutan /transportasi
Untuk lebih jelasnya, factor-faktior utama  yang diperlukan dalam pembangunan pertanian tersebut akan dijabarkan sebagai berikut :

a.      Adanya Pasar untuk Hasil Usahatani
Ada 3 hal yang diperlukan dalam pasar  yaitu :
1.        Adanya  konsumen  yang  mau  membeli  hasil, atau adanya suatu permintaan terhadap hasil tersebut.
2.        Adanya  seseorang atau lembaga yang menyalurkan/membawa hasil dari tempat petani  (usahatani)  ke  tempat  konsumen.    Dengan     perkataan lain   adanya   suatu system pemasaran atau sistem tataniaga.
3.        Kepercayaan petani terhadap kelancaran dan keberlanjutan sistem pemasaran.
Lembaga pemasaran mempunyai banyak fungsi tataniaga seperti, pembelian, angkutan, pengolahan, sortasi, grading, penggudangan, paking dan penjualan.  Apabila fungsi-fungsi tataniaga berjalan efisien, maka biaya tataniaga menjadi rendah, sehingga harga jual dapat cukup rendah. Peranan pemerintah dalam pengembangan lembaga-lembaga pemasaran adalah penting, seperti pembuatan peraturan, pemberian fasilitas-fasilitas, pengadaan informasi dan pelatihan tenaga-tenaga pemasaran. Petani mempercayai lembaga pemasaran apabila terdapat hal-hal berikut :
a)        Biaya fungsi pemasaran cukup rendah
b)        Balas jasa (profit) lembaga pemasaran dianggap cukup wajar, seimbang dan adil dengan harga yang diterima petani. 
c)        Derajat fluktuasi harga cukup wajar dan dapat diramalkan. 
d)       Ukuran-ukuran timbangan yang jujur
e)        Sistem pembayaran yang baik
f)         Jaminan kepastian pembelian oleh lembaga-lembaga pemasaran.
b.  Teknologi yang Senantiasa Berkembang
Teknologi adalah metode atau cara-cara budidaya pertanian dan input-input yang digunakan seperti : bibit/benih, pupuk, pestisida, pakan ternak, alat-alat dan mesin pertanian.  Termasuk juga dalam teknologi pertanian metode-metode kombinasi usaha, seperti kombinasi tanaman dan ternak atau kombinasi tanaman-ternak-ikan, agar pemanfaatan lahan dan tenaga kerja sebaik mungkin (optimal). Setelah suatu teknologi digunakan akan ditemukan kemudian faktor-faktor pembatas, untuk mengatasi faktor-faktor pembatas ini dibutuhkan kemudian teknologi baru. Dengan demikian teknologi harus terus menerus dikembangkan untuk mengatasi faktor pembatas yang muncul.
c.       Tersedianya Sarana Produksi dan Peralatan Secara Lokal
Meskipun teknologi yang sesuai  sudah ada dan hasil teknologi berupa input produksi atau bahan-bahan produksi telah diproduksi/dihasilkan tetapi bila petani belum dapat membelinya di lokasi usahataninya, maka petani belum menggunakan input-input atau bahan baru tersebut.  Itulah sebabnya bahwa input-input yang diimport dan input yang diproduksi di dalam negara tetapi belum lancar distribusinya atau pemasarannya, maka petani belum menggunakan input-input yang kurang bagus, hanya karena tersedia secara lokal pada waktu dibutuhkan, seperti : bibit/benih yang diproduksi secara lokal. Input-input bahan-bahan produksi dibeli petani apabila memenuhi syarat-syarat:
a)      Secara teknis dapat digunakan dengan efektif.
b)      Mutunya dapat dipercaya.
c)      Harganya terjangkau petani.
d)     Harus tersedia secara lokal pada waktu dibutuhkan.
e)      Paking atau ukuran yang dijual sesuai dengan kebutuhan dan keinginan petani.
d.      Adanya Perangsang Produksi bagi Petani
Meskipun petani bisa menaikkan produksinya, tetapi kemauan/kesediaan petani untuk menaikkan produksi tergantung pada manfaat yang akan diterimanya dari kenaikan produksi itu.  Tujuan petani dalam memproduksi hasil pertanian adalah memenuhi kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kemudian kebutuhan-kebutuhan lain seperti : pendidikan, kesehatan, angkutan dan kegiatan sosial. Peningkatan pendapatan bersih atau laba usahatani  merupakan perangsang bagi peningkatan produksi.  Hal ini tercapai apabila :
a)    Adanya hubungan  harga yang menguntungkan
b)   Ada sistem pembagian hasil atau system sewa yang wajar
c)    Ada tersedia barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan petani.
d)   Harga barang-barang dan jasa-jasa yang ingin dibeli petani juga dianggap wajar/seimbang.

e.       Pengangkutan /Transportasi
Sebagai akibat dari sifat pertanian yang harus tersebar luas diseluruh muka bumi, maka diperlukan pengangkutan yang sangat banyak untuk mengangkut input-input pertanian dari pasar ke usahatani dan mengangkut hasil-hasil pertanian dari usahatani ke pasar lokal dan seterusnya dari pasar lokal ke tempat konsumen, baik di dalam negeri atau di luar negeri.
Biaya pengangkutan sangat penting bagi petani dan menentukan biaya produksi dan nilai penerimaannya. Besarnya biaya angkutan ditentukan berbagai faktor yaitu :
a)         Jenis komoditi yang diangkut dan perlakuan yang diperlukan
b)        Jenis alat angkutan, berapa ton satu kali angkut
c)         Jarak tempuh dari angkutan
d)        Berapa kali barang di bongkar dan dimuat
e)         Keadaan prasarana jalan

Disamping faktor utama tadi ada 5 (lima) factor  pelancar yaitu :
1.      Pendidikan pembangunan pertanian,
2.      Kredit produksi.
3.      Kegiatan bersama (gotong royong) para petani.
4.      Perbaikan dan perluasan lahan pertanian.
5.      Perencanaan nasional untuk pembangunan pertanian.
Untuk lebih jelasnya, faktor-faktior pelancar yang diperlukan dalam pembangunan pertanian tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :

1.      Pendidikan Pembangunan Pertanian
Pendidikan pembangunan pertanian yaitu pendidikan yang cocok untuk masyarakat yang ingin maju. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan petani secara terus menerus adalah syarat mutlak pembangunan pertanian.
Mengenai program pendidikan pembangunan untuk petani, A.T. Mosher menyatakan harus memenuhi 8 syarat :
a)      Harus diberikan di tempat petani sendiri, di usahatani mereka dan di desa mereka.
b)      Harus bersifat khas yang sesuai dengan perhatian dan kebutuhan petani sekarang, antara lain bagaimana menaikkan produksi dan produktivitas, menaikkan selisih penerimaan dan biaya produksi.
c)      Harus memperhatikan bahwa petani adalah orang dewasa, harus menggunakan metode-metode khusus.
d)     Harus disesuaikan  dengan waktu-waktu petani tidak terlalu sibuk sehingga tidak mengganggu pekerjaan mereka.
e)      Hal-hal yang diajarkan adalah terutama cara-cara dan metode-metode baru dan metode yang telah diperbaiki/diubah.
f)       Harus disertai dan pemberian kesempatan kepada petani untuk segera mencoba metoda-metoda baru yang diajarkan.
g)      Cara-cara baru atau yang diperbaiki harus sehat secara teknis.
h)      Para petani perlu didorong untuk melakukan percobaan.
Pendidikan pembangunan berdasarkan prinsip-prinsip di atas disebut “Pendidikan Penyuluhan”.  Metode mengajar meliputi diskusi selama kunjungan  ke usahatani dan demonstrasi-demonstrasi lapangan dan penggunaan alat, pertemuan kelompok, kunjungan ke usahatani lain.
2.      Kredit  Produksi
Untuk memanfaatkan semua peluang-peluang yang terbuka dalam usahatani/ usaha pertanian maka diperlukan lebih banyak modal.  Modal dapat digunakan untuk modal kerja atau untuk investasi dalam bibit ternak dan bibit tanaman dan pemeliharaan tanaman keras (TBM). Maka untuk memenuhi kekurangan modal petani, perlu diberikan kredit produksi kepada petani.
Sumber-sumber kredit produksi yang dapat diperoleh petani ada  bermacam-macam :
1.    Kredit dalam bentuk bahan-bahan produksi dan input-input produksi.
2.    Kredit terpimpin (supervised credit)
3.    Kredit perbankan tanpa supervisi.
4.    Kredit dari Koperasi Kredit (credit union).
5.    Kredit Ventura
6.    Kredit Perseorangan swasta
7.    Kredit dari Perusahaan Inti
Pemberi kredit dalam pemberian kredit selalu mempertimbangkan juga berbagai masalah dan resiko dalam pemberian kredit. Sedangkan untuk mengurangi kegagalan penggunaan kredit juga sering dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang dapat bertindak sebagai supervisor, konsultan atau mitra dalam manajemen dan pemasaran hasil.
3.      Kegiatan  Bersama  Para  Petani  (Group Action)
Kegiatan usahatani sebagian dilaksanakan oleh masing-masing petani secara individu, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam pelaksanaannya. Dipihak lain kegiatan-kegiatan pemerintah sangat mempengaruhi hasil dari usahatani.  Antara kedua kegiatan ini ada kebutuhan petani, untuk melaksanakan kegiatan bersama antara sesama petani.  Kebutuhan ini didasarkan atas sifat-sifat pertanian, seperti ketergantungan pada iklim, pentingnya keamanan, perlunya mengatasi bencana alam dan untuk menghadapi pasar. Kebutuhan-kebutuhan kerjasama dapat dilaksanakan dalam bentuk gotong royong atau organisasi petani seperti koperasi dan Persatuan Petani Sejenis.  Gotong royong banyak di dasarkan atas budaya tradisional dimana kewajiban dan cara-cara pelaksanaannya tidak begitu formil.
Karena pentingnya kegiatan bersama petani, maka pemerintah mendorong dan membina kegiatan dan organisasi kegiatan bersama petani.
4. Perbaikan  dan  Perluasan  Tanah/Lahan  Pertanian
Lahan-lahan pertanian yang telah diusahakan perlu ditingkatkan produktivitasnya untuk memperoleh pertumbuhan pertanian dan meningkatkan pendapatan petani.  Oleh sebab itu berbagai upaya perlu dilakukan untuk memperbaiki mutu lahan-lahan pertanian.  Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah :
a)      Membangun irigasi seperti di lahan sawah dan membangun system irigasi untuk tanaman-tanaman hortikultura sayuran dan bunga-bungaan
b)      Membangun   saluran   drainase  
c)      Membangun  teras-teras  di  daerah  berbukit-bukit
d)     Membangun  benteng-benteng untuk mencegah tanah longsor.
e)      Membantu   benteng benteng   pencegahan/penahan   banjir dan sungai  yang meluap.
Dalam perluasan lahan pertanian perlu sekali dipertimbangkan biaya investasi dan kelayakannya, karena biaya investasinya umumnya besar.  Dalam hal ini lokasi, waktu melaksanakan proyek dan apa komoditi yang akan diusahakan menjadi faktor-faktor penentu kelayakan. Akibat pengembangan teknologi seperti bioteknologi, hydroponik dan aeroponik, banyak lahan-lahan atau ruang yang tadinya tidak layak menjadi layak digunakan untuk lahan pertanian.
5. Perencanaan Nasional Untuk Pembangunan Pertanian
Tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban pemerintah dalam pembangunan pertanian harus direncanakan dengan baik.  Untuk itu harus dilakukan perencanaan nasional untuk mendapat masukan dan menjadi acuan dalam perencanaan daerah (perencanaan tingkat Propinsi dan Kabupaten).
Dalam perencanaan diputuskan apa-apa yang harus dilakukan pemerintah untuk membangun dan mempercepat pembangunan pertanian. Untuk melakukan perencanaan nasional, maka perlukan badan yang kompeten melakukan perencanaan yaitu Badan Perencaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Badan perencaan memperoleh masukan dari departemen-departemen (kementerian) dan dari badan perencanaan daerah propinsi dan kabupaten.














FAKTOR UTAMA DAN FAKTOR PELANCAR DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN
(Tugas Mata Kuliah Penyuluhan Dan Pengembangan Komunikasi Masyarakat)









Description: Unlam 1




Oleh:
NOVIATI ANGRAINI
E1D312031








PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2014